PERBANKAN SYARIAH (MATERI SMA)

Berdasarkan pedoman Bank Indonesia, bank dibedakan menjadi dua, yaitu bank konvensional dan bank bagi hasil. Bank konvensional adalah bank yang aktivitasnya memobilisasi atau menerima dana masyarakat diberi bunga dan dalam operasi atau penyaluran dana oleh pihak bank dikenakan bunga pinjaman. Sedangkan bank bagi hasil adalah bank yang dalam aktivitasnya tidak mengambil bunga dari jasa usahanya, tetapi mendapat bagi hasil. Bank bagi hasil ini dikenal dengan bank syariah.

{|CATATAN| Simak penjelasan selengkapnya mengenai pembagian bank pada artikel ini: Pengertian dan Pembagian Bank}

Di Indonesia bank syariah pertama berdiri pada tahun 1991 yaitu Bank Muamalat Indonesia (BMI). Bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia, pemerintah dan dukungan dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), serta beberapa pengusaha muslim. Bank Muamalat Indonesia semapat terimbas olah kerisis moneter pada tahun 90-an sehingga ekuitas yang tersisa hasya sepertiga dari modal awal. Tetapi selanjutnya BMI mendapat suntikan dana dari Islamic Development Bank (IDB) sehingga pada periode 1999-2002 bangkit kembali dan menghasilkan laba.


Prinsip Perbankan Syariah


Bank syariah mempunyai beberapa prinsip atau hukum yang dianut, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.       Pembayaran pinjaman dengan nilai yang berbeda dari nilai pinjaman serta nilai yang ditetapkan sebelumnya.
b.      Pemberi dana harus berbagi keuntungan dan kerugian yang diakibatkan hasil usaha institusi yang meminjam dana.
c.       Dalam islam, tidak diperbolehkan “menghasilkan uang dari uang”. Uang hanyalah sebuah media pertukaran dan bukan merupakan komoditas karena uang tidak memiliki nilai intrinsik.
d.      Tidak diperbolehkan adanya Unsur Gharar (ketidakpastian atau spekulasi). Kedua belah pihak harus mengetahui hasil yang akan mereka dapatkan dari sebuah transaksi.
e.       Tidak boleh berinvestasi pada usaha-usaha yang diharamkan dalam Islam. Contohnya, berinvestasi dalam usaha minuman keras atau usaha sejenis yang diharamkan.


Fungsi Bank Syariah


Pada dasarnya fungsi bank syariah tidak berbeda dengan bank konvensional, yaitu sebagai lembaga intermediasi yang menghimpun dana dari masyarakat dan kemudian menyalurkannya kembali kepada masyarakat yang membutuhkan dalam bentuk fasilitas pembiayaan. Perbedaan pokok bank syariah dapat terlihat dari jenis keuntungan yang diapat bank syariah dari transaksi yang dilakukannya. Jika bank konvensional mendapatkan keuntungannya dari pengambilan bunga, sementara bank syariah mendapatkan keuntungannya dari imbalan, baik itu berupa jasa (fee-base income), mark-up atau profit margin, dan bagi hasil (loss and profit sharing).

Selain itu bank syariah diperbolehkan untuk melakukan kegiatan usaha yang sifatnya multi-finance dan perdagangan (trading). Hal ini berkaitan dengan sifat dasar transaksi bank syariah yang merupakan sebuah investasi dan jual beli serta sangat beragamnya pelaksanaan pembiayaan yang dapat dilaksanakan oleh bank syariah, seperti misalnya pembiayaan dengan prinsip murabahah (jual beli), ijarah (sewa) dan ijarah wa iqtina (sewa beli).


Produk Perbankan Syariah


Seperti halnya bank konvensional, bank syariah juga memiliki beberapa produk jasa yang ditawarkan yaitu sebagai berikut:

a.       Mudharabah
Yaitu suatu perjanjian antara penyedia modal dengan pengusaha. Penyedia modal menyediakan modal atau dana dan pihak yang memiliki pengalaman, keahlian (entrepreneur) menyalurkan dana tersebut sehingga menciptakan nilai tambah. Setiap keuntungan yang didapat akan dibagi menurut rasio tertentu yang telah disepakati sebelumnya. Risiko kerugian akan ditanggung penuh oleh pihak bank, kecuali kerugian yang disebabkan oleh kesalahan kelalaian, pengelolaan, dan penyimpangan pihak nasabah, seperti misalnya kecurangan, penyelewengan, dan penyalahgunaan.

b.      Musharakah (Joint Venture)
Yaitu perjanjian kerja sama antara dua pihak atau lebih. Konsep ini diterapkan pada model partnership (joint venture). Keuntungan yang didapat akan dibagi dalam rasio yang telah disepakati sebelumnya sementara kerugiannya akan dibagi sesuai rasio ekuitas yang dimiliki masing-masing pihak.

c.       Murabahah
Yaitu penyaluran dana dalam bentuk jual beli. Pihak bank akan membeli barang yang dibutuhkan oleh pengguna jasa, kemudian menjualnya kembali ke pengguna jasa dengan harga yang lebih tinggi sesuai keuntungan yang ditetapkan oleh bank, lalu pengguna jasa dapat membayar dengan cara mencicil barang tersebut.

d.      Ijarah
Adalah pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan, atau dengan pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewakan pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

e.       Wadiah (Jasa Penitipan)
Yaitu perjanjian antara pemilik barang atau uang dengan bank dengan ketentuan pihak bank bersedia menjaga dan menyimpan keamanan uang atau barang yang dititipkan padanya.

Pada kesempatan kali ini kami rasa cukup sekian untuk pembahasan kali ini, sampai bertemu lagi pada kesempatan selanjutnya, semoga bermanfaat dan terima kasih.
Ilmu Ekonomi ID
Ilmu Ekonomi ID Updated at: 5.2.16

0 komentar

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai topik pembahasan artikel. Terima kasih.

Recommended

Apa Itu Kombinasi Harga (Price Mix)?

Kombinasi Harga (Price Mix) Setiap perusahaan harus bisa menetapkan price mix (kombinasi harga) dalam rangka untuk memajukan promosi pen...