INFLASI DAN INDEKS HARGA

A.     INFLASI


1.      Pengertian Inflasi

Inflasi merupakan suatu keadaan dimana adanya kecenderungan kenaikan harga barang dan jasa secara umum yang berlangsung secara terus-menerus (kontinu) akibat tidak seimbangnya arus barang dan arus uang dalam suatu perekonomian. Dalam pengertian tersebut yang dimaksud dengan harga (price) merupakan harga dari semua kebutuhan masyarakat, sedangkan secara terus-menerus berarti kenaikan semua harga barang tersebut bukan hanya satu kali saja naik, tetapi berulang-ulang.

Kenaikan pada harga barang dan jasa biasanya terjadi jika permintaan sangat banyak tetapi berbanding terbalik dengan penawaran atau persediaan barang dan jasa di pasar yang tetap atau turun. Dengan demikian, istilah inflasi hanya dipakai ketika kenaikan tingkat harga yang berlangsung secara terus-menerus atau berkepanjangan. Kenaikan harga barang yang berlangsung sekaligus seperti kenaikan harga beberapa barang pokok pada saat akan memasuki hari raya tertentu tidak dapat dikatakan inflasi karena tidak mempunyai pengaruh lebih lanjut. Namun kenaikan  tersebut hanya disebut sebagai kenaikan tingkat harga.


2.      Jenis-Jenis Inflasi

Inflasi yang terjadi dapat dikelompokkan berdasarkan sifat, sebab terjadinya, dan berdasarkan asalnya.

a. Inflasi Berdasarkan Sifatnya

Berdasarkan sifatnya, inflasi terbagi menjadi empat kategori utama, yaitu inflasi rendah, menengah,  berat, dan inflasi sangat tinggi.

1) Inflasi Rendah (Creeping Inflation)
Inflasi rendah adalah inflasi mempunyai nilai yang besarnya kurang dari 10% per tahun. Inflasi ini sebenarnya dibutuhkan dalam ekonomi karena akan mendorong produsen untuk memproduksi barang dan jasa lebih banyak.

2) Inflasi Menengah (Galloping Inflation)
Inflasi menengah merupakan inflasi yang besarnya antara 10–30% per tahun. Inflasi menengah biasanya ditandai oleh naiknya harga barang dengan cepat dan relatif besar. Angka inflasi pada kondisi seperti ini biasanya disebut sebagai inflasi 2 digit, misalnya 15%, 20%, dan 30%.

3) Inflasi Berat (High Inflation)
Inflasi berat adalah inflasi yang besarnya antara 30–100% per tahun. inflasi ini pernah terjadi pada pertengahan tahun 1960 yang tingkat inflasinya mencapai 600%.

4) Inflasi Sangat Tinggi (Hyperinflation)
Inflasi sangat tinggi merupakan inflasi yang ditandai oleh naiknya harga barang secara drastis hingga mencapai 4 digit (di atas 100%). Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak ingin lagi menyimpan uang, karena nilainya yang turun derastis sehingga lebih baik ditukarkan dengan barang.

b. Inflasi Berdasarkan Sebabnya

Inflasi berdasarkan sebabnya terbagi menjadi dua, yakni sebagai berikut.

1) Tarikan Permintaan (Demand Pull Inflation)
Inflasi tarikan permintaan berlangsung akibat pengaruh permintaan yang besar yang tidak diiringi dengan  peningkatan jumlah penawaran produksi barang. Akibatnya hukum permintaan akan berlaku disini, jika permintaan terhadap barang banyak sementara penawaran barang tersebut tetap, harga akan mengalami kenaikan. Jika hal tersebut berlangsung terus-menerus, hal tersebut akan mengakibatkan inflasi yang berkepanjangan. Oleh karenanya, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan adanya peningkatan kapasitas produksi.

2) Desakan Biaya (Cost Push Inflation)
Inflasi karena desakan biaya terjadi karena kenaikan biaya produksi yang diakibatkan oleh kenaikan biaya input produksi (faktor produksi). Akibatnya produsen akan menaikan harga produk dengan jumlah penawaran yang sama atau dengan menaikan harga produk dengan penurunan jumlah produksi.

3) Inflasi Campuran (Bottle Neck Inflation)
Inflasi ini diakibatkan oleh faktor penawaran atau faktor permintaan. Jika diakibatkan faktor penawaran, persoalannya adalah kapasitas yang ada sudah terpakai tetapi permintaan masih banyak sehingga menimbulkan inflasi. Sementara inflasi yang diakibatkan oleh faktor permintaan dikarnakan adanya likuiditas yang banyak, baik itu berasal dari sisi keuangan atau akibat tingginya ekspektasi terhadap permintaan baru.

c. Inflasi Berdasarkan Asalnya

Inflasi berdasarkan asalnya, terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1) Domestic Inflation  (Inflasi yang berasal dari dalam negeri)
Inflasi domestik cenderung timbul karena terjadinya defisit dalam belanja dan pembiayaan negara yang dapat dilihat pada anggaran belanja negara. Untuk mengatasinya inflasi ini, biasanya pemerintah akan melakukan kebijakan dengan mencetak uang baru.

2) Imported Inflation  (Inflasi yang berasal dari luar negeri)
Inflasi ini diakibatkan karena negara-negara yang menjadi mitra dagang negara mengalami inflasi yang tinggi. Inflasi mendorong kenaikan harga-harga di negara mitra dagang utama yang disebabkan karena melemahnya nilai tukar yang secara langsung ataupun tidak langsung akan mengakibatkan  kenaikan biaya produksi di dalam negeri. Kenaikan biaya produksi tersebut biasanya akan disertai dengan kenaikan harga barang.


3.      Teori Inflasi


a. Teori Kuantitas
Teori kuantitas mengatakan bahwa pada perinsupnya inflasi itu timbul hanya disebabkan oleh pertambahan jumlah uang yang beredar, bukan akibat dari faktor-faktor lain. Berdasarkan teori kuantitas, ada 2 faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi:
1)      Jumlah uang yang beredar
Banyaknya jumlah uang yang beredar di masyarakat dapat meningkatkan inflasi, semakin besar jumlah uang yang beredar maka tingkat inflasinya juga akan semakin meningkat. Oleh sebab itu pemerintah dituntut harus memperhitungkan atau memperkirakan kemungkinan timbulnya inflasi jika ingin mengadakan penambahan uang baru, karena pembuatan uang baru yang jumlahnya terlalu banyak akan mengakibatkan ketidak stabilan perekonomian.

2)      Perkiraan/anggapan masyarakat bahwa harga-harga akan naik
Ketika masyarakat menganggap harga-harga akan naik maka masyarakat cenderung akan membelikan uangnya untuk barang-barang, sehingga permintaan akan meningkat. Akibatnya hal tersebut akan  mendorong kenaikan harga-harga barang secara terus-menerus. Untuk mengatasi inflasi menurut teori kuantitas ini adalah dengan mengurangi jumlah uang yang beredar dimasyarakat. Dengan begitu inflasi yang disebabkan oleh faktor apapun selama jumlah uang yang beredar dikurangi maka dengan sendirinya inflasi akan turun dan harga akan kembali pada tingkat yang semestinya.

b. Teori Keynes
Dilihat dari perspektif teori ini, inflasi terjadi karena masyarakat memiliki permintaan yang melebihi jumlah uang yang tersedia. Dalam teorinya ini, Keynes menyatakan bahwa inflasi terjadi karena masyarakat menginginkan hidup yang melebihi batas kemampuan ekonomisnya. Teori ini memfokuskan bagaimana persaingan anar golongan masyarakat dalam mendapatkan penghasilan dapat menimbulkan permintaan agregat yang lebih besar daripada jumlah barang yang tersedia sehingga menimbulkan kenaikan harga.

c. Teori Strukturalis
Teori Strukturalis sering disebut juga sebagai teori inflasi jangka panjang karena teori ini mengamati  sebab inflasi yang berasal dari struktur ekonomi, khususnya supply bahan makanan dan barang ekspor. Menurut teori ini pertambahan produksi barang terlalu lambat sehingga tidak sebanding dengan pertumbuhan kebutuhannya, akibatnya terjadi kenaikan harga bahan makanan dan juga  kelangkaan devisa negara. Jika sudah seperti itu akan terjadi kenaikan harga barang secara merata sehingga terjadi inflasi. Inflasi seperti ini tidak bisa diatasi hanya dengan mengurangi jumlah uang yang beredar dimasyarakat, tetapi harus diatasi dengan peningkatan produktivitas dan pembangunan sektor bahan makanan dan barang-barang ekspor.


4.      Dampak Infalsi

Inflasi sangat berdampak terhadap perekonomian suatu negara, diantaranya adalah sebagai berikut:

a.      Berkurangnya Investasi
Inflasi mengakibatkan penurunan nilai uang suatu negara, sehingga hal ini cenderung akan mengurangi minat investor untuk menanamkan modalnya. Selain itu minat masyarakat untuk menabung  juga menurun sehingga dana untuk investasi berkurang, akibatnya pertumbuhan output nasional akan menurun.

b.      Mendorong Tingkat Suku Bunga
Ketika terjadi inflasi mau tidak mau lembaga keuangan harus meningkatkan bunga pinjaman agar tidak terjadi penurunan nilai mata uang. Namun disisi lain, hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi  pengembangan usaha karena akan mengurangi minat para investor untuk mengembangkan usaha.

c.       Mendorang Tingkat Spekulatif
Para pemilik modal cenderung akan menyimpan kekayaannya dalam bentuk investasi spekulatif, yaitu dengan membeli rumah, tanah, dollar dan barang-barang berharga lainnya yang dianggap lebih menguntungkan pada saat waktunya dijual karena nilainya tidak turun karena inflasi.

d.      Kegagalan Pembangunan
Inflasi yang tidak dapat teratasi pada saat tahap perencanaan produksi atau perencanaan pembangunan dapat menyebabkan gagalnya pelaksanaan investasi dan pembangunan karena membengkaknya biaya.

e.       Ketidakpastian Ekonomi Masa yang Akan Datang
Infalasi yang gagal diatasi atau telambat dikendalikan akan mengakibatkan ketidakpastian kegiatan ekonomi dimasa depan. Keadaan ini tentu saja akan mengurangi gairah dunia usaha sehingga produksi akan berkurang.

f.        Daya Saing Produk Nasional Berkurang
Inflasi mengakibatkan membengkaknya biaya produksi sehingga harga barang melambung tinggi, jika harga terlalu tinggi ini akan menyulitkan produk dalam negeri untuk bersaing dipasar internasional, sehingga ekspor barang menjadi terhambat. Jika sudah begitu pengembangan sektor industri yang berorientasi pada ekspor dapat terganggu. Kondisi seperti ini secara langsung akan memperburuk perekonomian nasional.

g.      Defisit Neraca Pembayaran
Produksi nasional yang tidak dapat bersaing dipasar internasional sebagai akibat dari barang impor yang lebih murah daripada barang dalam negeri, mengakibatkan impor berkembang lebih cepat dari pada ekspor. Hal ini menyebabkan arus modal yang masuk ke luar negeri lebih banyak daripada arus modal yang masuk ke dalam negeri. Keadaan tersebut lama kelamaan akan berakibat terjadinya dafisit neraca pembayaran serta penurunan mata uang dalam negeri.

h.      Kesejahteraan Masyarakat Menurun
Penurunan produktifitas dunia usaha serta kebijakan pemerintah yang bersifat kontradiktif dalam mengantisipasi inflasi dapat meningkatkan pengangguran yang akan menimbulkan berbagai macam masalah pada masyarakat serta menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat.

Sementara dampak yang timbul dari inflasi kepada masyarakat adalah:

a.      Masyarakat Berpengahasilan Tetap
Ketika terjadi inflasi, orang  yang berpenghasilan tetap seperti misalnya pegawai negeri ataupun pegawai swasta akan merasa nilai dari pendapatan mereka terus ditekan oleh inflasi, ditambah lagi dengan naiknya harga berbagai komoditas, taraf hidup mereka akan semakin turun, uang yang mereka simpan juga nilainya akan terus turun yang dinyatakan dengan niali nominal.

b.      Kreditur atau Debitur
Bagi kreditur, inflasi akan meyebabkan dirinya mengalami kerugain karena nilai uang yang diterima pada saat pembayaran telah menurun. Sedangkan bagi debitur, inflasi akan menguntungkan karena pada saat pembayaran ia membayar dengan nilai riil yang sudah menurun.

c.       Memperbesar Kesenjangan Distribusi Pendapatan
Pada masa inflasi harta tetap seperti tanah, rumah, sawah dan sebagainya akan mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut sering kali lebih cepat dari kenaikan laju inflasi. Oleh karena itu, masyarakat yang mempunyai harta tetap akan semakin kaya ketika terjadi inflasi, sebaliknya harta mereka yang pendapatan riil nya rendah akan semakin sulit untuk memiliki harta tetap sehingga akan memperbesar kesenjangan pendapatan diantera anggota masyarakat.

d.      Menguntungkan Para Spekulan
Orang yang memiliki uang dapat berspekulasi atau menduga-duga dalam teransaksi jual beli barang dengan harapan akan mendapat keuntungan besar. Tabungan yang dimiliki akan diagantikan oleh simpanan dalam bentuk mata uang asing yang akan dijual ketika harga sangat tinggi.

e.       Mempengaruhi Para Pelaku Ekonomi
Infalsi akan menguntungakan para pengusaha yang memiliki modal yang kuat. Mereka bisa saja memonopoli perdagangan dan produksi sehingga dalam transaksi jaul beli mereka selalu mendapatkan keuntungan karena tidak tergoyahkan oleh keadaan inflasi. Mereka dengan mudah dapat menentukan keuntungan yang mereka inginkan seiring dengan naiknya harga. Sementara disisi lain bagi para pengusaha yang memiliki modal kecil yang bergerak dalam usaha manufaktur, situasi naiknya harga yang begitu cepat menimbulkan rasa takut dalam melaksanakan proses produksi karena seringkali tidak dapat menutup proses produksi berikutnya. Lama kelamaan usaha mereka tidak dapat dipertahankan dan akhirnya gulung tikar, jika sudah begitu pada akhirnya produksi hanya dikuasai oleh pengusaha besar.


5.      Cara Mengatasi Inflasi

Untuk mengatasi masalah inflasi pertama-tama adalah dengan mengetahui sebab-sebab terjadinya inflasi terlebih dahulu agar jalan keluarnya dapat diketahui. Beberapa ahli ekonomi menyetujui bahwa inflasi tidak haya berkaitan dengan jumlah uang yang beredar tetapi juga dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia dimasyarakat. Oleh karenanya untuk mengatasi masalah inflasi yang paling utama adalah bagaimana cara menekan laju pertumbuhan jumlah uang yang beredar dan menguranginya. Untuk itu kebijakan sangat diperlukan, kebijakan-kebijakan tersebut diantaranya adalah:

a.      Kebijakan Moneter
Kebijakan moneter adalah segala bentuk kebijakan pemerintah di bidang moneter atau keuangan yang bertujuan untuk menjaga kestabilan keuangan agar kesejahteraan masyarakat meningkat. Kebijakan ini meliputi:
1)      Politik Diskonto
Politik diskonto dilakukan dengan cara mengurangi jumlah uang yang beredar dengan cara menaikan suku bunga bank, sehingga permintaan kredit akan berkurang.
2)      Operasi Pasar Terbuka
Operasi pasar terbuka dilakukan dengan cara menjual surat-surat barharga misalnya obligasi ke pasar modal sehingga jumlah uang yang beredar akan berkurang.
3)      Menaikan Cadangan Kas
Untuk mempengaruhi jumlah uang yang beredar, bank sentral dapat mengubah besarnya rasio kas. Bila pemerintah menurunkan minimum kas rasio, maka dengan uang yang sama bank dapat menciptakan uang lebih banyak dari jumlah awal, dan sebaliknya jika pemerintah menghendaki mengurangi jumlah uang yang beredar pemerintah akan menaikan minimun kas rasio bank supaya uang tertahan dikas lebih banyak.
4)      Kredit Selektif
Kebijakan ketedit dilakukan dengan cara memberi kredit secara selektif. Bank sentral berusaha mempengarui bank umum dalam aturan pemberian kredit kepada nasabah sehingga jumlah uang yang beredar berkurang.
5)      Politik Sanering
Politik sanering ini dilakukan bila inflasi sudah mencapai tingkat hiperinflasi, hal ini pernah dilakukan Bank Indonesia pada tanggal 13 Desember 1965 dengan melakukan pemotongan uang dari Rp.1.000 menjadi Rp.1

b.      Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal dilakukan oleh pemerintah sejalan dengan kebijakan moneter, kebijakan ini dapat dilakukan dengan cara:
1)   Menaikkan tarif pajak, jika tarif pajak dinaikan masyarakat akan membayar uang lebih banyak pada pemerintah dengan begitu jumlah uang yang beredar akan berkurang.
2)      Mengatur penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
3)   Melakukan pinjaman pemerintah, pelaksanaannya dilakukan secara otomatis misalnya pemerintah dapat memotong gaji pegawai negeri sebesar 10% untuk ditabung (dipinjam oleh pemerintah).

c.       Kebijakan Non Moneter
Kebijakan non moneter atau kebijakan riil dapat dilakukan dengan cara:
1)   Menaikan hasil produksi, misalnya dengan cara pemberian subsidi oleh pemerintah kepada industri agar produksinya lebih produktif dan dapat menghasilkan output yang lebih banyak, sehingga harga barang akan turun.
2)    Kebijakan upah, ketika terjadi inflasi pemerintah akan menghimbau kepada serikat buruh atau pekerja untuk tidak meminta kenaikan upah.
3)    Pengawasan harga, agar harga tidak terus naik, pemerintah dapat melakukan pengawasan harga misalnya dengan menentukan harga maksimum untuk barang-barang tertentu.


6.      Beberapa hal yang berhubungan dengan inflasi

a.    DEFLASI, adalah suatu keadaan dimana harga-harga relatif menurun secara terus-menerus dan terjadi peningkatan nilai uang karena jumlah uang yang beredar di masyarakat relatif lebih sedikit dibanding dengan jumlah barang dan jasa yang tersedia. Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi.
b.   DEFRESIASI, adalah penyusutan atau penurunan nilai tukar mata uang terhadap mata uang asing yang terjadi di pasar uang.
c.       APRESIASI, adalah kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing yang terjadi di pasar uang.
d.    INFLASI TERBUKA, adalah keadaan dimana harga-harga bergerak naik dan tak terkendali, serta terdapat kelebihan permintaan terhadap barang.
e.   SANERING, adalah pemotongan nilai mata uang oleh pemerintah menjadi lebih kecil dari sebelumnya dengan tujuan mengendalikan inflasi yang tinggi.
f.     REVALUASI, adalah sebuah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk menaikan nilai mata uang dalam negeri terhadap valuta asing.
g.    DEVALUASI, adalah kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai mata uang dalam negeri terhadap valuta asing dengan sengaja untuk meningkatkan nilai ekspor dan devisa negara.


7.      Metode Perhitungan Inflasi

Angka inflasi dapat dihitung berdasarkan angka indeks yang didapat dari beberapa macam barang yang diperjualbelikan dengan tingkat harga dari masing-masing barang di pasar. Berdasarkan data harga yang ada tersebut, disusunlah suatu angka di dalam indeks. Dan angka indeks yang memperhitungkan semua barang yang dibeli oleh konsumen pada setiap tingkat harga disebut sebagai Indek Harga Konsumen (IHK) atau Consumer Price Index (CPI).

Baca: Perhitungan Pendapatan Nasional

Berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK), dapat diketahui besarnya laju kenaikan harga-harga secara umum pada periode tertentu, yang biasanya setiap satu bulan, tiga bulan dan 1 tahun. Selain dengan menggunakan indeks harga konsumen, tingkat inflasi juga dapat dihitung dan diketahui dengan menggunakan GNP atau PDB deflator. GNP atau PDB deflator adalah suatu indeks harga yang dipakai untuk menyesuaikan nilai uang dalam GNP agar mendapatkan nilai riil GNP.
Adapun rumus untuk menghitung tingkat inflasi sebagai berikut

Rumus Menghitung Tingkat Inflasi

Rumus Menghitung Tingkat Inflasi

In = inflasi
IHKn = Indeks Harga Konsumen tahun dasar (biasanya nilainya 100)
IHKn–1 = Indeks Harga Konsumen tahun sebelumnya
Dfn = GNP atau PDB deflator berikutnya
Dfn–1 = GNP atau PDB deflator tahun sebelumnya
Dalam perhitungan inflasi dapat dilakukan dengan menggunakan indeks harga.


B.     INDEKS HARGA KONSUMEN (IHK)

Laju inflasi biasanya dihitung dari persentase perubahan IHK pada suatu periode waktu. Indeks harga konsumen atau consumer price index adalah ukuran rata-rata perubahan harga dari suatu paket komoditas pada kurun waktu tertentu atau antar waktu tertentu. IHK menunjukan perubahan umum dari sejumlah paket komoditas yang dikonsumsi oleh rumah tangga di daerah perkotaan. Paket komoditas yang digunakan untuk menyusun IHK didapat dari survei pengeluaran rumah tangga yang disebut Survey Biaya Hidup (SBH).

Lebih jauh lagi menurut Badan Pusat Statistik, angka indeks harga merupakan angka yang menunjukan perbandingan harga dalam dua waktu yang berbeda sehingga angka indeks harga disebut sebagai angka perbandingan antara harga komoditas atau kelompok komoditas yang terjadi pada suatu periode waktu tertentu dengan periode waktu yang telah ditentukan. Karena data harga yang digunakan merupakan harga konsumen, maka indeks harga yang digunakan adalah indeks harga konsumen.

Tujuan perhitungan IHK adalah sebagai berikut:
a.       Mengetahui perkembangan harga barang dan jasa yang tergabung pada idagram timbangan harga.
b.   Sebagai pedoman untuk menentukan suatu kebijakan yang akan datang, terutama dibidang pembangunan ekonomi.
c.       Sebagai alat penghitungan dalam penyesuaian Upah Minimum Kabupaten (UMK).
d.      Mempermudah pemantauan permintaan dan penawaran khususnya barang kebutuhan masyarakat yang ada dipasar.

Untuk menghitung IHK perlu diketahui lebih dulu kelompok harga mana yang sebaiknya pakai. Indeks harga konsumen mencakup semua harga komoditas yang umumnya dibeli oleh rumah tangga. Perubahan dalam IHK dimaksudkan untuk mengukur perubahan biaya hidup rumah tangga. Selain itu, harga-harga komoditas, misalnya perubahan harga beras terasa lebih penting daripada perubahan harga barang lainnya. Dengan demikian dalam perhitungan IHK setiap harga komodiatas diberi bobot yang mencerminkan tingkat pentingnya komoditas tersebut.

Indeks harga terbagi menjadi indeks harga tertimbang dan indeks harga biasa.

a. Indeks Harga Tertimbang

Metode indeks harga tertimbang menggunakan tahun dasar atau tahun berjalan sebagai pertimbangan dan dapat juga menggunakan bobot. Bobot ini diperoleh dari rasio penerimaan komoditas tertentu terhadap penerimaan seluruh komodiasi yang diperjualbelikan di pasar. Indeks harga tertimbang yang menggunakan komoditas tahun dasar sebagai timbangannya disebut Indeks Laspeyres. Rumusnya adalah sebagai berikut.

Rumus Indeks Harga Laspeyres

IL = indeks Laspeyres
∑Pn = jumlah harga komoditi tahun ke-n
∑Po = jumlah harga komoditi tahun ke-0
Q0 = jumlah barang tahun ke-0
Sedangkan indeks harga tertimbang yang menggunakan komoditas tahun berjalan disebut sebagai Indeks Pasche. Rumusnya adalah sebagai berikut.

Rumus Indeks Harga Pasche

IP = indeks Pasche
Qn = kuantitas tahun ke-n
Rumus Indeks Pasche yaitu PDB atau GNP deflator, karena rumus tersebut sama dengan:


b. Indeks Harga Biasa (Tak Tertimbang)

Metode indeks harga biasa menghitung besarnya kenaikkan harga dari suatu komoditas setiap periodenya berdasarkan harga nominalnya. Rumus untuk menghitung indek harga biasa ini adalah sebagai berikut.

Rumus Indeks Harga Biasa

Pn = harga komoditi sekarang
Po = harga komoditi yang lalu

Artikel terkait:
Konsumsi dan Tabungan
Teori Investasi
Ilmu Ekonomi ID
Ilmu Ekonomi ID Updated at: 14.1.16

0 komentar

Post a Comment

Berkomentarlah sesuai topik pembahasan artikel. Terima kasih.

Recommended

4 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen

4 Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Adalah penting bagi setiap perusahaan untuk mengetahui bagaimana perilaku konsumen. Dimana p...